Pages

Friday, January 3, 2014

Tokobagus Klaim 1 Miliar "Page View" per Bulan

JAKARTA, KOMPAS.com - Situs web iklan baris Tokobagus.com meraih pencapaian baru dari sisi jumlah pengunjung. Pada Juli 2013, Tokobagus diklaim mendapat page view (halaman yang dibuka) lebih dari 1 miliar kali per bulan dan lebih dari 50.000 iklan baru per harinya masuk ke situs tersebut.

Chief Operating Officer Tokobagus, Alif Priyono mengatakan, sejak saat itu perusahaan terus mengalami pertumbuhan, bahkan melampaui target. Ia optimis, Tokobagus dapat menjadi satu dari lima situs iklan baris teratas di negara-negara berkembang.

"Kami juga sangat senang melihat user engagement yang sangat tinggi yang digambarkan oleh page view atau visit rata-rata lebih dari 25 halaman per kunjungan," kata Alif dalam siaran yang diterima KompasTekno, Senin (16/12/2013).

Kategori iklan andalan di Tokobagus saat ini adalah mobil, motor, dan properti. Di tahun 2014, mereka masih fokus memperkuat bisnis consumer-to-comsumer (C2C) yang menjual barang bekas pakai.

Ketika nanti pasar online di Indonesia telah tumbuh maksimal, Alif optimis, Tokobagus dapat tumbuh menempati peringkat empat situs iklan baris di dunia, bersaing dengan kompetitor dari negara maju.

Saat ini, kompetitor kuat Tokobagus adalah Kaskus dan Berniaga. Kaskus, baru saja berganti kepemimpinan pada Desember 2013. Sukan Makmuri kini menduduki posisi CEO Kaskus, menggantikan Ken Dean Lawadinata. Sukan pernah menjabat sebagai vice president of internet banking di Bank of America.

Analisa:

Pasar online kini tengah menjadi trend di Indonesia, dengan adanya pasar online ini calon pembeli bisa mudah mencari barang yang mereka inginkan secara instan. Salah satu  keuntungan berbisnis melalui online ini adalah si penjual tidak perlu memiliki toko fisik dan hanya memerlukan modal yang sedikit, hal ini akan membantu mereka yang mempunyai usaha kecil menengah dalam memasarkan barang dagangannya. 

Sumber:http://tekno.kompas.com/read/2013/12/16/1642343/Tokobagus.Klaim.1.Miliar.Page.View.per.Bulan

Twitter Uji Coba Fitur Baru

KOMPAS.com - Setelah melakukan pembaruan tampilan dan fitur berkirim foto melalui direct message (DM), Twitter kembali bereksperimen membuat fitur yang bisa digunakan untuk melihat siapa saja yang "berkicau" di sekitar penggunanya. Fitur ini sepintas mengingatkan fitur salah satu penyedia layanan instant messaging.
Dilansir The Verge, Sabtu (14/12/2013), beberapa pengguna aplikasi mobile Twitter di Amerika Serikat (AS) mengabarkan bahwa mereka bisa melihat timeline baru yang berada di sekitar mereka, selain timeline milik sendiri.
Sebelumnya Twitter belum pernah menguji coba layanan berbasis lokasi. Bahkan, fitur lokasi yang dalam Twitter secara default non-aktif di perangkat mobile.
Twitter berharap penggunanya bisa melihat dan membaca apa yang sedang terjadi di sekitar mereka dengan nyaman dan cepat, secara langsung, dengan asumsi banyak yang mengaktifkan fitur ini.

Timeline ini akan muncul secara otomatis, bahkan jika pengguna tidak menjadi follower akun tersebut. Bagian atas timeline akan menunjukkan peta dengan titik biru memendar yang menunjukkan lokasi pengguna, dan akun lain di sekitarnya. Bagian bawah timeline menampilkan tweet yang berasal dari sekitarnya.

Dengan melakukan klik satu titik biru di peta, akan memunculkan timeline akun tersebut. Saat pengguna berjalan sekeliling juga akan memunculkan foto-foto yang berada di sekitar mereka. Tentunya ini bisa dimanfaatkan Twitter untuk menjual fitur tersebut ke pengiklan. Namun, Twitter juga perlu berhati-hati dengan masalah privasi.

Hingga kini Twitter belum memberi konfirmasi, mereka hanya menjawab diplomatis bahwa perusahaan selalu menguji coba berbagai fitur melalui program Twitter Experiments.

Analisa:
Dengan adanya fitur baru ini memungkinkan para pengguna twitter untuk mengetahui secara cepat dan instant informasi yang ada di sekitar mereka.  Adanya fitur baru ini membuat social media satu ini akan menjadi lebih sensitif akan privasi, dan juga bisa menimbulkan modus kejahatan terbaru karena akun sekitar akan terlihat di peta. Jika fitur ini nantinya akan benar benar terealisasi kita sebagai pengguna media social ini harus tetap berhati-hati dan waspada untuk “berkicau” di Timeline karena secara tidak langsung kicauan kita akan terhubung dengan pemilik akun disekitar meski mereka bukan followers kita.



Game Sebagai Media Pembelajaran

Agustus 2013 lalu, di sela-sela International Conference on Serious Game and Social Connect 2013, penulis sempat berdiskusi dengan Prof. Scot Osterweil, Creative Director MIT’s Scheller Teacher Education Program, sebuah program di Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang fokus mengembangkan game sebagai media pembelajaran.

Salah satu alasan MIT mendirikan program tersebut adalah karena keyakinan mereka akan potensi game sebagai media pembelajaran yang efektif. Prof. Osterweil memaparkan bahwa dengan desain yang tepat, game akan mampu menyediakan sebuah lingkungan yang sangat menunjang proses belajar efektif.

Alasannya sederhana, karena dalam game umumnya kita diberi kebebasan untuk bereksplorasi, untuk melakukan kesalahan, untuk memerankan berbagai identitas/melihat dari berbagai sudut pandang, serta memberikan kebebasan dalam mengatur tingkat usaha kita sendiri. Dengan kata lain, dengan design yang tepat maka game bisa menjadi sebuah media pembelajaran yang luar biasa.

Menariknya ternyata bukan hanya rekan-rekan di MIT yang telah menginisiasi riset serius untuk menjadikan game sebagai media pembelajaran, Pemerintah Singapura ternyata juga memberikan perhatian yang luar biasa untuk pengembangan game sebagai media pembelajaran. Melalui Game-Based Learning Initiative- Learning Sciences Lab National Institute of Education, Nanyang Technological University berbagai penelitian untuk pengembangan game untuk pendidikan selama beberapa tahun terakhir telah menjadi fokus dunia pendidikan di Singapura.

Game punya banyak potensi luar biasa. Namun seperti banyak hal lainnya di sekitar kita, belum banyak yang kita lakukan untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Jangankan melihatnya sebagai sebuah media pembelaran yang efektif - kesadaran bahwa aktivitas bermain yang sehat juga merupakan proses belajar yang penting saja masih belum sepenuhnya kita yakini.
Mimpi membangun pendidikan Indonesia yang lebih baik adalah sebuah hal yang luar biasa besar, mungkin ada baiknya kita memulainya dengan belajar untuk bisa bermain lebih serius.

Analisa:

Seperti yang kita ketahui, game memiliki efek positif dan negative kepada pemakainya. Efek negative game salah satunya adalah kecanduan, untuk memerangi efek candu ini sebaiknya game dikemas secara edukatif dan tetap menarik sebagai sarana pembelajaran. Memang baik jika kita bisa terus belajar di dalam game, akan tetapi ini membuat seseorang menjadi anti social dan bisa menjadi tidak peka lingkungan sekitarnya, jika ini terjadi ini akan membentuk karakter yang buruk bagi kehidupan sosial.

Google Disiapkan Tak Cuma Jadi Mesin Pencari

KOMPAS.com - Layanan pencarian informasi Google telah berhasil dan berkembang dengan pesat. Google bahkan berhasil membuat kosa kata baru "Googling" yang merujuk pada aktivitas pencarian dengan situs Google. Tak hanya sampai di situ saja, Google memiliki rencana lebih di masa depan.
Google Search tak lagi hanya menampilkan daftar nama situs beserta alamatnya yang berwarna biru, seperti lebih dari 15 tahun yang lalu. Google Search kini juga menampilkan beragam informasi yang sedang dicari penggunanya.
Di sebuah kesempatan konferensi teknologi di Paris, Google Engineering Director, Scott Huffman mengatakan bahwa ke depan mesin pencari Google akan dibuat lebih pintar lagi.
Menurut Huffman, Google Search yang baru bakal seperti layaknya asisten pribadi yang menampilkan informasi apa saja yang kita perlukan. Bahkan tanpa diminta, informasi ini langsung ditampilkan oleh Google. Gambaran mesin pencari Google masa depan ini bisa dilihat dari fitur Google Now yang terdapat di perangkat Android.
Membuat asisten pribadi yang bisa diandalkan menjadi tujuan Google yang baru. Seperti dikutip dari Techcrunch, Jumat (27/12/2013), mesin pencari generasi mendatang bisa menyelesaikan semua kebutuhan pengguna sembari di jalan secara cepat dan mudah.
Hal itu bisa diartikan bahwa ke depannya pengguna bakal berinteraksi dengan Google melalui perangkat yang bahkan tidak memiliki layar, seperti di dalam mobil dan ruang keluarga. Perintah suara juga bakal diintegrasikan dengan perangkat-perangkat, seperti mikrofon dan speaker.
Interaksi dengan Google di masa mendatang akan lebih seperti percakapan dua arah. Berkat Knowledge Graph, Google kini bisa memahami perilaku penggunanya dan mengenali suara dalam percakapan yang masih terbatas.
Dengan demikian, Google Search di masa mendatang akan lebih seperti bagaimana peran pengembang pihak ketiga memasukkan informasi ke dalam Knowledge Graph, bukan mengakali algoritma Google agar situs web-nya ada di peringkat atas.

Analisa:


Rencana pengembangan google di masa depan akan semakin membuat internet semakin melekat. Kemudahan akses untuk mencari informasi akan sangat membantu para pelajar dan orang umum, hal ini tentu saja akan menambah wawasan yang lebih.  Selain itu, kita tidak boleh hanya bergantung pada fasilitas “asisten pribadi” ini, sebagai mahluk social kita juga harus tetap berinteraksi dengan orang-orang disekitar kita.

Ini Alasan Remaja Mulai Tinggalkan Facebook

KOMPAS.com - Facebook kehilangan daya tarik untuk remaja karena semakin banyak orang tua menggunakan media sosial itu untuk mamantau anak mereka, ungkap suatu penelitian.

Para peneliti, seperti dikutip dari Mailonline, mengatakan anak-anak sekarang menganggap Facebook "tidak ok" dan malu mengunggah kegiatannya karena khawatir ketahuan orang tua.

Penelitian itu mendalami kebiasaan online remaja di delapan negara Eropa termasuk Inggris.

Ternyata banyak remaja pengguna Facebook beralih ke media sosial alternatif, seperti Snapchat dan WhatsApp.

Profesor Daniel Miller dari University College London, yang bekerja di Global Media Social Impact Study, mengatakan anak-anak Inggris "bahkan malu jika dihubungkan dengan Facebook".

Dia mengatakan "kaum muda berbondong-bondong menggunakan media sosial lain padahal orang tua mereka terus menggunakan Facebook."

Profesor Miller mengatakan remaja sekarang menganggap Facebook "sangat tidak keren".

"Muda dan bebas itu dinilai percuma kalau orang tua dapat mengakses setiap tingkah laku kita. Kaum muda sangat peduli gaya dan status sebaya mereka, sehingga Facebook tidak keren lagi."

"Kalau dulu orang tua khawatir tentang anak-anak mereka bergabung dengan Facebook, kini mereka bersikeras supaya anak-anak tetap menggunakan Facebook," kata Millier.

Namun, studi tersebut menemukan sebagian besar remaja tetap menggunakan Facebook untuk kontak dengan kakaknya atau saudara yang tidak serumah lagi.

Penelitian yang didanai oleh Uni Eropa itu mencermati perilaku remaja usia  16 sampai 18 tahun selama 15 bulan.

Analisa:


Tidak hanya di Negara-negara eropa, saat ini pamor facebook di Indonesia pun mulai menurun. Sekarang remaja di Indonesia lebih cendrung menggunakan media social seperti twitter,path,instagram dan untuk instant messaging ada WhatsApp, LINE, dan BBM untuk berinteraksi dengan temannya, melihat kebiasaan orang Indonesia yang konsumtif tidaklah heran jika banyak yang menggunakan media social yang sedang nge-trend. Facebook di Indonesia tidak sepenuhnya ditinggalkan remaja-remaja kini menggunakan facebook untuk berdiskusi di grup, bermain game facebook, dan menyimpan meskipun pengguna aktifnya tidak sebanyak dulu.