Pages

Monday, November 4, 2013

Wacana yang Membedakan Pemanfaatan Bahasa Indonesia pada Tataran Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non Ilmiah

PENGERTIAN KARYA ILMIAH

Karya Ilmiah adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian oleh seorang penulis atau sebuah tim berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Definisi yang lain mengatakan bahwa karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.

MACAM KARYA TULIS ILMIAH

Sesuai dengan cirinya yang tertulis tadi, maka karya tulis ilmiah dapat berwujud dalam bentuk makalah (dalam seminar atau simposium), artikel, laporan praktikum, skripsi, tesis, dan disertasi, yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan (referensi) bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.

CONTOH WACANA ILMIAH

Globalisasi informasi dan budaya yang terjadi menjelang millenium baru seperti saat ini adalah sesuatu yang tak dapat dielakkan. Gemuruh globalisasi yang sudah mulai terdengar sejak akhir abad ke-20, telah membuat masyarakat dunia, termasuk bangsa Indonesia harus bersiap-siap menerima kenyataan masuknya pengaruh luar terhadap seluruh aspek kehidupan bangsa.Salah satu aspek yang terpengaruh adalah kebudayaan.
Terkait dengan aspek kebudayaan, kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Kebudayaan juga dapat didefinisikan melalui wujudnya, yang mencakup gagasan atau ide, kelakuan dan hasil kelakuan (Koentjaraningrat). Oleh karena itu nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan atau psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan Bagi bangsa Indonesia aspek kebudayaan merupakan salah satu kekuatan bangsa yang memiliki kekayaan nilai yang beragam, termasuk keseniannya.Kesenian rakyat, salah satu bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia tidak luput dari pengaruh globalisasi. Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memperoleh akses komunikasi dan berita namun hal ini justru menjadi bumerang tersendiri dan menjadi suatu masalah yang paling krusial atau penting dalam globalisasi, yaitu kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengertahuan dikuasai oleh negara-negara maju, bukan negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Mereka yang memiliki dan mampu menggerakkan komunikasi internasional justru negara-negara maju. Akibatnya, negara-negara berkembang, seperti Indonesia selalu khawatir akan tertinggal dalam arus globalisai dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk kesenian kita. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa.Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh.

Terkait dengan seni dan budaya, Seorang penulis asal Kenya bernama Ngugi Wa Thiong’o menyebutkan bahwa perilaku dunia Barat, khususnya Amerika seolah-olah sedang melemparkan bom budaya terhadap rakyat dunia. Mereka berusaha untuk menghancurkan tradisi dan bahasa pribumi sehingga bangsa-bangsa tersebut kebingungan dalam upaya mencari indentitas budaya nasionalnya. Penulis Kenya ini meyakini bahwa budaya asing yang berkuasa di berbagai bangsa, yang dahulu dipaksakan melalui imperialisme, kini dilakukan dalam bentuk yang lebih luas dengan nama globalisasi.

WACANA SEMI ILMIAH

            Wacana pada tataran semi ilmiah merupakan wacana yang karakteristiknya berada diantara ilmiah dan non-ilmiah.

MACAM WACANA SEMI ILMIAH

            Artikel, Editorial, Opini, Feuture, Reportase

CONTOH WACANA SEMI ILMIAH

            YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Penggunaan lampu berteknologi light emitting diode (LED) sudah mulai meluas. Bukan hanya konsumen biasa, selebriti bahkan landmark kota pun sudah secara resmi menggunakan lampu berteknologi LED. Apa kelebihan lampu berteknologi LED dibandingkan dengan lampu-lampu lain?

Berikut ini perbedaannya. 
Saat ini, setidaknya ada lima jenis lampu yakni lampu pijar, lampu halogen, fluorescent, lampu hemat energi, dan LED.
Lampu pijar adalah bohlam tradisional. Lampu ini tersedia dalam berbagai variasi bentuk, ukuran, dan ukuran watt. Harganya pun sangat terjangkau. Sayangnya, lampu pijar mengonsumsi banyak energi listrik. Lampu ini pun berumur pendek dan memancarkan panas. Sangat berbahaya untuk dijadikan lampu baca karena dapat dengan mudah tersentuh.

Lampu halogen adalah pengembangan dari lampu pijar. Lampu ini memberikan cahaya redup. Bagi yang masih ingin "mempertahankan" otentisitas lampu pijar, lampu ini bisa menjadi solusi. Sayangnya, sama seperti lampu pijar, halogen juga tidak hemat energi.

Pilihan lainnya adalah fluorescent. Lampu ini menghasilkan cahaya dari gas. Dibandingkan lampu pijar,fluorescent bisa dikategorikan hemat. Pasalnya, lampu tersebut dapat menghemat hingga 30 persen. Lampu ini pun relatif aman karena memiliki kandungan merkuri rendah. Desainnya ramping meski mampu menerangi seluruh ruangan. Sayangnya, lampu ini mudah rusak jika sering dimatikan dan dinyalakan. Pecahan lampu ini juga berbahaya.

Setelah melewati era lampu-lampu tidak hemat energi, generasi baru kemudian tampil, yakni lampu hemat energi. Lampu ini mampu menghemat energi sampai 80 persen. Performanya tinggi dan ukurannya pun mungil serta bisa bertahan hingga 6.000 jam. Sayangnya, lampu ini hanya mampu memberikan terang bagi satu ruangan, dan sedikit estetika. Selain itu, lampu ini masih mengandung merkuri.
Alternatif terbaik yang kini tersedia adalah LED. Head of Marketing Lighting PT Philips Indonesia, Ryan Tirta Yudhistira, mengatakan bahwa LED menyala karena perpindahan elektron. Karena tidak ada yang dibakar seperti lampu pijar, maka lampu ini tidak panas dan jauh lebih aman. Selain itu, jika lampu hemat energi bisa menghemat hingga 80 persen, lampu berteknologi LED mampu menghemat hingga 85 persen. Sayangnya, investasi lampu ini cukup mahal pada penggunaan awal.



WACANA NON ILMIAH :

 Karangan nonilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.

CIRI-CIRI KARANGAN NON ILMIAH

ditulis berdasarkan fakta pribadi
fakta yang disimpulkan subyektif
gaya bahasa konotatif dan popular
tidak memuat hipotesis
penyajian dibarengi dengan sejarah
bersifat imajinatif
situasi didramatisir
bersifat persuasive

MACAM KARYA TULIS NON ILMIAH

Dongeng, cerpen, novel, drama, dan roman

CONTOH

Petualangan berfokus kepada karakter Bilbo Baggins, yang ikut ke dalam usaha merebut kembali Kerajaan Dwarf dari naga menakutkan.
Bilbo bergabung dengan rombongan tiga belas kurcaci yang dipimpin oleh prajurit legendaris, Thorin Oakenshield. Perjalanan mereka akan menuju wilayah yang liar, melalui tanah berbahaya dipenuhi Goblin dan Orc, Warg mematikan dan ahli-ahli sihir. Meskipun tujuan mereka terletak di bagian Timur dan daerah kritis dari Gunung Sunyi, pertama mereka harus melewati terowongan goblin, di mana Bilbo bertemu makhluk yang akan mengubah hidupnya selamanya ... Gollum. Sendirian dengan Gollum, di tepi sebuah danau bawah tanah, Bilbo Baggins yang sederhana menyadari kecerdikan dan keberaniannya sendiri yang mengejutkan dirinya sendiri, ia juga mendapatkan kepemilikan "berharga" cincin Gollum yang memegang kekuatan tak terduga dan berguna ... Sebuah cincin emas sederhana yang kerkaitan dengan nasib seluruh bumi Tengah - dengan cara yang tidak di ketahui Bilbo.


Daftar Pustaka:







Wednesday, October 23, 2013

Penggunaan Bahasa Indonesia Secara Baik dan Benar


Bahasa menurut Gorys Keraf (1997 : 1) merupakan alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Mungkin ada yang mengatakan bahwa ada alat komunikasi lain selain bahasa, misalnya penggunaan alat, simbol, dan lain sebagainya, namun hal ini banyak sekali kelemahannya.Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks daripada yang dapat diperoleh dengan menggunakan media tadi. Bahasa haruslah merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.Berbahasa Indonesia secara baik adalah menggunakan bahasa Indonesia sesuai konteks (pembicaraaan atau penulisan). Sedangkan berbahasa Indonesia secara benar adalah menggunakan bahasa Indonesia sesuai kaidah (tata bahasa) bahasa Indonesia.
“Loe ngerjain tugas sama siapa?”“Berapa harga ini bang?” (sambil menunjuk baran yang ditanyakan)
Kalimat di atas merupakan contoh kalimat yang baik dan benar, jika digunakan oleh seseorang dengan orang lain yang akrab dan sebaya. Menjadi tidak baik dan jelas tidak benar jika digunakan oleh mahasiswa kepada dosennya.Contoh kalimat kedua juga merupakan kalimat yang baik, karena sesuai dengan situasi dan kondisi. Tetapi belum tentu benar. Tidak mungkin bahasa tersebut kita ganti dengan bahasa yang benar.Contoh baku: 
“Berapa harga buku ini satu buah bang?”“Harga satu buah buku ini adalah lima ribu rupiah.”
Hal ini tentulah tidak menjadi efektif karena situasi pasar yang ramai dan juga banyak pembeli yang mengantre membuat bahasa yang benar tidaklah tepat dalam situasi ini karena membutuhkan tawar menawar dalam hal tawar menawar. Berbahasa Indonesia yang baik itu jika digunakan sesuai konteks pembicaraan dan situasi. Jika digunakan untuk teman,sahabat,pacar atau orang yang sebaya dan akrab maka kalimat tersebut baik. Tetapi perlu diperhatikan, kata-kata seperti “loe” tidaklah baku karena yang baku adalah “kamu” atau “anda”.Berbahasa Indonesia yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan tata bahasa baku yang telah ditetapkan. Bahasa Indonesia yang benar diterapkan dalam bahasa tulis dan bahasa lisan yang sifanya resmi misalnya pada saat berpidato.Yang baik belum tentu benar, dan yang benar belum tentu baik. Yang baik dan benar adalah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, bukan hanya baik saja, bukan hanya benar saja, apalagi yang tidak baik dan tidak benar.

Fungsi Bahasa Sebagai Alat Komunikasi

Pada dasarnya bahasa memiliki fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yaitu sebagai alat untuk mengekspresikan diri, alat untuk berkomunikasi, alat untuk mengadakan integrasi, dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol social(Keraf, 1997 :3). 

Berdasarkan studi Albert Mahrabian, manusia berkomunikasi 7% dari bahasa verbal, 38% dari nada suara, & 55% dari ekspresi muka. Itu artinya kemampuan verbal hanya menyumbang sedikit dari cara manusia berkomunikasi, sisanya adalah nada dan ekspresi muka yang mendominasi komunikasi karena nada dan ekspresi muka sangat memengaruhi komunikasi kita terhadap lawan bicara, dengan nada dan ekspresi muka dan gerak tubuh yang terlatih akan mempercepat penyampaian informasi,maksud,dan keinginan kita saat berkomunikasi dengan lawan bicara.

Menurut Felicia (2001:1) dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita dengan bahasa, terutama Bahasa Indonesia, sebagai bahasa Ibu, bahasa Indonesia tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajarinya lagi.

Bahasa juga sebagai alat komunikasi merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama . Bahasa mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita. (Gorys Keraf, 1997 : 4).

Bahasa sebagai sarana komunikasi mempunyai fungsi utama bahwa komunikasi ialah penyampaian pesan atau makna oleh seseorang kepada orang lain. Keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia menyebabkan bahasa tidak tetap dan selalu berubah seiring perubahan kegaiatan manusia dalam kehidupannya di masyarakat. Perubahan bahasa dapat terjadi bukan hanya berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat. Terutama pada penggunaan Fungsi komunikasi pada bahasa asing Sebagai contoh masyarakat Indonesia lebih sering menempel ungkapan “No Smoking” daripada “Dilarang Merokok”, “Stop” untuk “berhenti”, “Exit” untuk “keluar”, “Open House” untuk penerimaan tamu di rumah pada saat lebaran. Jadi bahasa sebagai alat komunikasi tidak hanya dengan satu bahasa melainkan banyak bahasa.

Bahasa Indonesia berfungsi sebagi alat komunikasi antaranggota masyarakat. Fungsi tersebut digunakan dalam berbagai lingkungan, tingkatan, dan kepentingan yang beraneka ragam, misalnya, komunikasi ilmiah, bisnis, kerja, social dan budaya. Untuk itu, pemakai bahasa komunikatif memerlukan pengetahuan dan keterampilan menggunakan berbagai ragam bahasa yang dapat mendukung pengembangan pengetahuan, keterampilan, pemikiran, dan sikap yang hendak dikomunikasikannya.Komunikasi lisan atau non standar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak teliti berbahasa. Kita akan kesulitan pada saat akan menggunakan bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur.

Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Sehingga kita sering mendengarkan istilah “ Bahasa Komunikatif”.Misalnya : Kata Makro hanya dapat dipahami oleh golongan masyarakat tertentu. Besar atau luas mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat.
Sumber:
http://herwingoernia19.blogspot.com/2013/04/contoh-penggunaan-bahasa-indonesia.html

en.wikipedia.org/wiki/Albert_Mehrabian‎

Hs, Widjono. 2007. Bahasa Indonesia – Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi, Edisi Revisi, PT Grasindo, Jakarta.



t_wahyu.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/4761/BAB1.htm‎l

Wednesday, July 3, 2013

BUDAYA ORGANISASI

Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi.
Adapun pengertian Budaya Organisasi menurut beberapa ahli, yaitu :
1.Menurut Wood, Wallace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, Osborn (2001:391), budaya organisasi adalah sistem yang dipercayai dan nilai yang dikembangkan oleh organisasi dimana hal itu menuntun perilaku dari anggota organisasi itu sendiri.
2.Menurut Tosi, Rizzo, Carroll seperti yang dikutip oleh Munandar (2001:263), budaya organisasi adalah cara-cara berpikir, berperasaan dan bereaksi berdasarkan pola-pola tertentu yang ada dalam organisasi atau yang ada pada bagian-bagian organisasi.
3.Menurut Robbins (1996:289), budaya organisasi adalah suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu.
4.Menurut Schein (1992:12), budaya organisasi adalah pola dasar yang diterima oleh organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah, membentuk karyawan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan mempersatukan anggota-anggota organisasi. Untuk itu harus diajarkan kepada anggota termasuk anggota yang baru sebagai suatu cara yang benar dalam mengkaji, berpikir dan merasakan masalah yang dihadapi.
5.Menurut Cushway dan Lodge (GE : 2000), budaya organisasi merupakan sistem nilai organisasi dan akan mempengaruhi cara pekerjaan dilakukan dan cara para karyawan berperilaku. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan budaya organisasi dalam
penelitian ini adalah sistem nilai organisasi yang dianut oleh anggota organisasi, yang kemudian mempengaruhi cara bekerja dan berperilaku dari para anggota organisasi.

A.    FUNGSI BUDAYA ORGANISASI
Budaya organisasi memiliki fungsi yang sangat penting. Fungsi budaya organisasi adalah sebagai tapal batas tingkah laku individu yang ada didalamnya.

Menurut Robbins (1996 : 294), fungsi budaya organisasi sebagai berikut :
1.Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain.
2.Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
3.Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual seseorang.
4.Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan.
5.Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.

B.     TIPOLOGI BUDAYA ORGANISASI

Menurut Sonnenfeld dari Universitas Emory (Robbins, 1996 :290-291), ada empat tipe budaya organisasi :
1. Akademi
Perusahaan suka merekrut para lulusan muda universitas, memberi mereka pelatihan istimewa, dan kemudian mengoperasikan mereka dalam suatu fungsi yang khusus. Perusahaan lebih menyukai karyawan yang lebih cermat, teliti, dan mendetail dalam menghadapi dan memecahkan suatu masalah.
2. Kelab
Perusahaan lebih condong ke arah orientasi orang dan orientasi tim dimana perusahaan memberi nilai tinggi pada karyawan yang dapat menyesuaikan diri dalam sistem organisasi. Perusahaan juga menyukai karyawan yang setia dan mempunyai komitmen yang tinggi serta mengutamakan kerja sama tim.
3. Tim Bisbol
Perusahaan berorientasi bagi para pengambil resiko dan inovator, perusahaan juga berorientasi pada hasil yang dicapai oleh karyawan, perusahaan juga lebih menyukai karyawan yang agresif. Perusahaan cenderung untuk mencari orang-orang berbakat dari segala usia dan pengalaman, perusahaan juga menawarkan insentif finansial yang sangat besar dan kebebasan besar bagi mereka yang sangat berprestasi.
4. Benteng
Perusahaan condong untuk mempertahankan budaya yang sudah baik. Menurut Sonnenfield banyak perusahaan tidak dapat dengan rapi dikategorikan dalam salah satu dari empat kategori karena merek memiliki suatu paduan budaya atau karena perusahaan berada dalam masa peralihan.

Daftar Pustaka:
Irianto, Yusuf, 2001.Tema-Tema Pokok Manajemen Sumber Daya Alam, Penerbit Insan Cendikiawan, Surabaya.
Schroeger, Roger. G.  1994. Manajemenn Operasi.
Ismangil Wagiono. A Strategic Management Approach Corporate Culture Organization Culture.2001. Jakarta.


Dr. Edy Soetrisno, M.Si, Budaya Organisasi, 2010. Prenada Media Group. Jakarta

Saturday, June 8, 2013

Imbalan dan Hukuman dalam Organisasi

        Di dalam sebuah organisasi tentu saja terdiri dari berbagai macam individu yang turut membangun perilaku serta perkembangan organisasi tersebut. Perbedaan individu merupakan faktor penting karena memiliki dampak langsung terhadap organisasi tersebut. Seorang manajer harus tahu bagaimana menyusun serta memikirkan perilaku yang berbeda dari setiap individu, bagaimanapun juga itu akan mempengaruhi kinerja.
Selain sumber daya manusia sebagai salah satu unsur yang sangat menentukan keberhasilan suatu organisasi, disisi lain juga sebagai makhluk yang mempunyai pikiran, perasaan kebutuhan dan   harapan-harapan tertentu. Hal ini sangat memerlukan perhatian tersendiri karena faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi prestasi, dedikasi dan loyalitas serta kecintaan terhadap  pekerjaan dan organisasinya. (Hasibuan,1994)

IMBALAN

  • Definisi
       Imbalan atau kompensasi adalah faktor penting yang mempengaruhi 
bagaimana dan mengapa orang-orang bekerja pada suatu organisasi dan bukan
pada organisasi yang lainnya. Perusahaan harus cukup kompetitif dengan
beberapa jenis kompensasi untuk mempekerjakan, mempertahankan, dan
memberi imbalan terhadap kinerja setiap individu di dalam organisasi.



Berdasarkan pendapat para ahli masalah Sumber Daya Manusia, telah 
dikemukakan pengertian tentang imbalan/kompensasi, sebagai berikut : 
Menurut (Ivancevich,1998) 
Compensation is the Human Resources
Management function that deals with every type of reward individuals receive in exchange for performing organization tasks. Kompensasi adalah fungsi
manajemen sumber daya manusia yang berkaitan dengan semua bentuk
penghargaan yang dijanjikan akan diterima karyawan sebagai imbalan dari
pelaksanaan tugas dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan. 
Dari pengertian di atas dapat diketahui ciri-ciri imbalan atau kompensasi, 
yaitu : 
1. Kompensasi merujuk kepada semua bentuk imbalan keuangan,
analisis dampak imbalan dan kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai 5
2. Kompensasi diperoleh dari pelayanan yang nyata dan manfaat yang diterima 
karyawan sebagai bagian dari suatu hubungan pekerjaan. 
3. Kompensasi merupakan penghargaan finansial yang diberikan kepada 
karyawan 
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan 
bahwa kompensasi atau imbalan merupakan semua bentuk pembayaran yang 
diberikan oleh perusahaan kepada karyawan sebagai balas jasa atas 
pelaksanaan tugas atau kontribusi karyawan kepada perusahaan, baik yang 
diberikan secara teratur maupun situasional.

(Dessler,1998) dalam bukunya “Manajemen Sumber Daya Manusia” menyatakan 
kompensasi karyawan adalah setiap bentuk pembayaran atau imbalan yang diberikan kepada karyawan dan timbul dari dipekerjakannya karyawan itu, dan kompensasi karyawan mempunyai dua komponen. Pertama, pembayaran keuangan langsung dalam bentuk upah, gaji, insentif, komisi dan bonus. Kedua, pembayaran tidak langsung dalam bentuk tunjangan keuangan seperti asuransi dan uang liburan yang dibayarkan perusahaan.

Sesuai dengan pendapat (Ranupandojo,2000) yang menyatakan bahwa :
“Kompensasi meliputi kegiatan pemberian balas jasa kepada karyawan.
Kegiatan di sini meliputi penentuan sisten kompensasi yang mampu
mendorong prestasi karyawan, dan juga menentukan besarnya
kompensasi yang akan diterima oleh masing-masing karyawan”

HUKUMAN


  • Definisi

Merupakan pemberian suatu kejadian(tindakan) yang tidak disukai atau penghapusan suau kejadian poisitif setelah adanya tanggapan yang mengurangi frekuensi tanggapan sebelumnya. Ada hubungan atau kemungkinan antara tanggapan yang ditentukan dengan konsekuensi yang tidak disukai atau stimulus. Penolakan beberapa pihak terhadap penggunaan hukuman didasarkan atas moral bahwa tindakan yang menyakitkan adalah buruk dan harus dihindarkan.

Beberapa definisi hukuman telah dikemukakan oleh beberapa ahli, di antaranya:

1. Hukuman adalah tindakan yang dijatuhkan kepada seseorang secara sadar dan sengaja sehingga menimbulkan nestapa, dan dengan adanya nestapa itu seseorang akan menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji di dalam hatinya untuk tidak mengulanginya. (Amin Danien Indrakusuma, 1973:14).
2. Menghukum adalah memberikan atau mengadakan nestapa/penderitaan dengan sengaja kepada seseorang dengan maksud supaya penderitaan itu betul-betul dirasainya untuk menuju kearah perbaikan. (Suwarno, 1981:115).

Jadi, Hukuman adalah suatu konsekuensi yang tidak menyenangkan terhadap suatu respons perilaku tertentu dengan tujuan untuk memperlemah perilaku tersebut dan mengurangi frekuensi perilaku yang berikutnya.



  •  Dampak pada kinerja
        Semua tindakan tentu saja memiliki dampak salah satunya Konsep kepuasan kerja dapat ditemukan pada sikap yang merupakan salah satu bagian dari nilai. Nilai merupakan keyakinan dasar bahwa suatu modus perilaku atau keadaan akhir dari eksistensi yang khas lebih disukai secara pribadi atau sosial dari pada suatu modus perilaku atau keadaan akhir yang

berlawanan. 
Nilai mengandung suatu unsur pertimbangan dalam arti nilai mengemban gagasan-gagasan seorang individu mengenai apa yang benar, baik atau diinginkan (Robbins, 2003:82).
Sikap adalah pernyataan evaluatif baik yang menguntungkan atau tidak menguntungkan mengenai objek, orang, atau peristiwa. Sikap mencerminkan bagaimana seseorang merasakan sesuatu. (Robbins, 2003:90).
Tipe sikap ada tiga, yaitu :
a. Keterlibatan Kerja
b. Komitmen Pada Organisasi

c. Kepuasaan Kerja

Kepuasan kerja merupakan hal penting yang dimiliki oleh setiap orang
dalam bekerja. Dengan tingkat kepuasan yang tinggi pegawai akan bekerja sungguh-sungguhsehingga tujuan organisasi dapat tercapai.
Rasa puas bukan merupakan keadaan yang tetap karena dapat dipengaruhi
oleh keadaan lain baik di dalam maupun di luar lingkungan kerja. Kepuasan kerja mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap produktivitas suatu organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung. 



Menurut (Robbins,2003) “Kepuasan kerja sebagai suatu sikap umum
seorang individu terhadap pekerjaanya”.

“Kepuasan kerja adalah suatu pernyataan emosional yang positif atau
menyenangkan yang dihasilkan dari penilaian terhadap suatu pekerjaan atau
pengalaman kerja”. (Luthans,2006:243)
Sedangkan menurut (As’ad,2003) “Kepuasan kerja merupakan
perasaan seseorang terhadap pekerjaan. Hasil interaksi manusia dengan
lingkungan kerjanya”. 
Pada kenyataanya kepuasan kerja karyawan merupakan pernyataan yang sulit untuk didefinisikan dengan istilah sederhana sekalipun, karena kepuasan kerja itu sendiri merupakan kondisi yang sangat subyektif dan sangat tergantung pada individu yang bersangkutan pada lingkungan kerjanya. Menyimak beberapa pendapat para ahli di atas mengenai pernyataan kepuasan kerja, belum ada keseragaman. Dapat disimpulkan dari semua pendapat tentang pengertian diatas bahwa kepuasan kerja adalah Kepuasan kerja adalah suatu pernyataan emosional yang positif atau menyenangkan yang dihasilkan dari penilaian terhadap suatu pekerjaan atau pengalaman kerja, Namun demikian tidak terdapat perbedaan yang mendasar, pada intinya kepuasan kerja merupakan perasaan atau sikap seseorang terhadap pekerjaanya yang disebabkan oleh beberapa faktor, dimana sikap tersebut merupakan respon terhadap apa yang menjadi harapannya dan apa yang didapatkan dari tempatnya bekerja.

Kepuasan kerja merupakan aspek penting dalam diri seseorang dalam
sebuah organisasi. Dengan dimilikinya kepuasan kerja pada diri karyawan akan lebih memacu partisipasinya dalam setiap kegiatannya untuk mencapai tujuan perusahaan.



Daftar Pustaka:
Fx, Surwanto. 1999. Perilaku Keorganisasian. Yogyakarta. Universitas Atma Jaya.

Irianto, Yusuf, 2001.Tema-Tema Pokok Manajemen Sumber Daya Alam, Penerbit Insan Cendikiawan, Surabaya.

Nimran, Umar, 1999. Perilaku Organisasi, Edisi Revisi, Cetakan Kedua, CV, Citra Media, Surabaya

Thoha, Miftah, 1993. Perilaku Organisasi – Konsep Dasar dan Aplikasinya, Cetakan Ke Enam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Friday, May 3, 2013

Pengambilan Keputusan dalam Organisasi


Di dalam kehidupan manusia selalu dihadapkan deengan banyak pilihan serta harus memutuskan pilihan tersebut yang baik baginya atau orang lain. Pengambilan keputusan juga melalui tahap-tahap pertimbangan dan untuk tujuan yang jelas, meskipun keputusan yang diambil terkadang tidaklah tepat.

Definisi

Pengambilan keputusan adalah proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi. Proses tersebut untuk menemukan dan menyelesaikan masalah organisasi. Suatu aturan kunci dalam pengambilan keputusan ialah sekali kerangka yang tepat sudah diselesaikan, keputusan harus dibuat (Brinckloe,1977)
situasi pengambilan keputusan yang dihadapi seseorang akan mempengaruhi keberhasilan suatu   pengambilan   keputusan. (Matlin ,1998) 
Seseorang dituntut untuk mengambil keputusan secara tepat ketika dia berada dalam situasi terdesak, seseorang juga harus menganalisa, mempertimbangkan, memprediksi serta yang terakhir mengambil keputusan itu sendiri. Dalam kondisi tersebut, reaksi setiap individu tentunya berbeda-beda tergantung kondisi individu tersebut.


Dasar Pengambilan Keputusan

  • Pengambilan Keputusan Rasional

            Keputusan yang bersifat rasional  berkaitan dengan daya guna. Masalah – masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif. Dalam masyarakat, keputusan yang rasional dapat diukur apabila kepuasan optimal masyarakat dapat terlaksana dalam batas-batas nilai masyarakat yang di akui saat itu.
  •  Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta

            Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya pengambilan keputusan didukung oleh sejumlah fakta yang memadai. Sebenarnya istilah fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi. Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan.
            Keputusan yang berdasarkan sejumlah fakta, data atau informasi yang cukup itu memang merupakan keputusan yang baik dan solid, namun untuk mendapatkan informasi yang cukup itu sangat sulit.

  •      Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman

            Sering kali terjadi bahwa sebelum mengambil keputusan, pimpinan mengingat-ingat apakah kasus seperti ini sebelumnya pernah terjadi. Pengingatan semacam itu biasanya ditelusuri melalui arsip-arsip penhambilan keputusan yang berupa dokumentasi pengalaman-pengalaman masa lampau. Jika ternyata permasalahan tersebut pernah terjadi sebelumnya, maka pimpinan tinggal melihat apakah permasalahan tersebut sama atau tidak dengan situasi dan kondisi saat ini. Jika masih sama kemudian dapat menerapkan cara yang sebelumnya itu untuk mengatasi masalah yang timbul.
            Dalam hal tersebut, pengalaman memang dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan masalah. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis. Pengalaman dan kemampuan untuk memperkirakan apa yang menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya sangat membantu dalam memudahkan pemecaha masalah.
  •  Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang

            Banyak sekali keputusan yang diambil karena wewenang (authority) yang dimiliki. Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien.
            Keputusan yang berdasarkan wewenang memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain : banyak diterimanya oleh bawahan, memiliki otentisitas (otentik), dan juga karena didasari wewenang yang resmi maka akan lebih permanent sifatnya.
Keputusan yang berdasarkan pada wewenang semata maka akan menimbulkan sifat rutin dan mengasosiasikan dengan praktik dictatorial. Keputusan berdasarkan wewenang kadangkala oleh pembuat keputusan sering melewati permasahan yang seharusnya dipecahkan justru menjadi kabur atau kurang jelas.

Jenis


Dalam manajemen keputusan dikategorikan dalam dua jenis yaitu
  • keputusan terprogram (programmed decisions) 
  • keputusan tak terprogram (nonprogrammed decisions).
Mengemukakan bahwa pengambilan keputusan adalah sebagai pemilihan yang didasarkan kriteria tertentu atas dua atau lebih alternatif yang mungkin.(G. R. Terry)
Mengatakan proses pengambilan keputusan itu dikerjakan oleh kebanyakan manajer berupa suatu kesadaran, kegiatan pemikiran yang termasuk pertimbangan, penilaian dan pemilihan diantara sejumlah alternatif. (Claude S. Goerge, Jr) 

Keputusan terprogram adalah merupakan “keputusan yang diambil berdasarkan kebiasaan, peraturan, atau prosedur tertentu. Setiap organisasi mempunyai kebijakan tertulis atau tidak tertulis yang mempermudah pengambilan keputusan dalam situasi yang berulang-ulang dengan membatasi ataupun dengan cara meniadakan alternatif.
Sebaliknya, keputusan tidak terprogram adalah keputusan untuk memecahkan masalah yang luar biasa atau masalah istimewa. Jika suatu masalah jarang sekali muncul sehingga tidak tercakup oleh suatu kebijakan atau sedemikian penting sehingga memerlukan perlakuan khusus, maka masalah tersebut harus ditangani dengan suatu keputusan tidak terprogram. 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi


Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan menurut George .R Terry, yaitu :
a)   Hal-hal yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang emosional maupun yang rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.
b)  Setiap keputusan harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi.
c)  Setiap keputusan jangan berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi harus lebih     mementingkan kepentingan organisasi.
d)  Jarang sekali pilihan yang memuaskan, oleh karena itu buatlah altenatif-alternatif tandingan.
e)  Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental dari tindakan ini harus diubah menjadi tindakan fisik.
f)    Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang cukup lama.
g)  Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
h)  Setiap keputusan hendaknya dilembagakan agar diketahui keputusan itu benar.
i)   Setiap keputusan merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan mata rantai berikutnya.




Daftar Pustaka

Salusu, J. 2004. Pengambilan Kepts Stratejik.
Schroeger, Roger. G.  1994. Manajemenn Operasi: Pengambilan Keputusan dalam Suatu Fungsi.
Terry, George .R. & Winardi.  1986. Asas-asas Manajemen.